Love: A Brain Damage?

Saya punya seorang teman yang saya kenal ketika saya baru saja masuk ke bangku SMA. Ketika itu, tahun 2004 tepatnya, saya berhasil masuk ke sebuah sekolah khusus perempuan yang menyandang gelar salah satu sekolah favorit di wilayah Jakarta Selatan. Teman saya ini adalah lulusan terbaik dari SMP-nya, dan ia memiliki pribadi yang ramah dan menyenangkan sehingga semua teman, dari yang setingkat sampai para senior, tidak bisa tidak menyukainya. Selama setahun saya sekelas dengannya, saya cukup dekat dengannya. Kami sesekali berbagi kisah pribadi, serta melakukan hal-hal gila bersama, salah satunya adalah ngamen di kawasan Pondok Indah untuk menggalang dana bagi acara ekstrakurikuler yang kami ikuti bersama!

Di akhir tahun ajaran, teman saya ini meraih ranking teratas di kelas saya. Sayang, setelah itu saya harus pindah keluar kota sehingga pertemanan kami pun hanya berlanjut via SMS, Facebook, dan kini juga Twitter. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu muka lagi dengannya. Walau begitu, dia tetap termasuk salah satu teman yang saya idolakan, apalagi setelah saya tahu bahwa di balik kecerdasannya dalam bidang akademis, ia juga punya bakat dan selera fashion yang sangat baik, dan diam-diam bercita-cita menjadi seorang fashion designer sekalipun ia kuliah di bidang akuntansi di sebuah perguruan tinggi yang sangat terkenal dengan seleksi masuknya yang super ketat.

Sampai beberapa hari yang lalu, kami bertukar alamat YM dan ia pun mengontak saya untuk bercerita tentang pria yang sedang disukainya saat ini. Saya kaget ketika ia bercerita bahwa sudah beberapa waktu ini ia menangis setiap hari, karena merasa bahwa pria yang disukainya tidak memberikan respon yang positif padanya. Ketika saya tanyakan tentang awal mula hubungan mereka, saya bertambah kaget ketika mengetahui bahwa ia baru sekali kopi darat dengan pria tersebut dan sebetulnya juga baru-baru ini saja berkenalan lewat Twitter dan mengobrol lewat YM. Wow! Saya sungguh tidak menyangka bahwa perempuan se-cool dia pun bisa dibutakan dan, well, dibuat konyol, oleh yang disebut cinta. Namun, sebentar, apa dia memang sungguh-sungguh jatuh cinta? Benarkah yang dirasakan oleh teman saya ini adalah CINTA?

Setelah saya telaah lebih lanjut, teman saya ini ternyata sudah lama sekali tidak menjalin hubungan dengan lelaki. Terakhir kali adalah ketika dia masih duduk di bangku SMP! Dia merasa bahwa di umurnya yang ke-21 sekarang ini, ia sudah terlalu tua untuk menjadi single (yang sebenarnya agak menohok saya sih, karena saya sendiri juga single :p)! Ia sangat merindukan sosok pria untuk dicintai dan mencintainya. Ia bahkan berkata terang-terangan pada saya bahwa ia merasa kesepian, desperate, dan ‘butuh punya pacar’! Sekali lagi, wow.

Sebagai teman, saya memang tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya menyarankan agar dia tidak terlalu terburu-buru dalam melakukan pendekatan dengan lelaki tersebut, karena takutnya lelaki itu justru akan merasa risih dan takut melihat wanita yang terlalu agresif! Selain itu, saya juga meyakinkan teman saya bahwa 21 tahun adalah umur yang masih saaaaaaaangat muda untuk mulai mencari pacar, apalagi suami.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya terheran-heran melihat perubahan drastis yang bisa terjadi pada seseorang diakibatkan hal yang diduga bernama cinta. Beberapa tahun sebelum ini, saya juga sempat menjadi tempat curahan perasaan seorang teman yang sudah saya kenal sejak kami berdua masuk SD! Dari kelas 1 SD sampai kelas 1 SMA, saya belajar di sekolah yang sama dengan dia. Bahkan, waktu SMP, kami pernah sama-sama tergabung dalam sebuah geng (pada zaman itu, kalau tidak termasuk dalam geng manapun di sekolah, berarti kamu adalah orang yang sangat-keterlaluan-tidak-gaulnya). Teman saya ini adalah orang paling pintar yang pernah saya temui seumur hidup saya, bahkan sampai saat ini mungkin. Dia langganan juara kelas dan juara umum semasa sekolah, dan pada masa kuliahnya ia juga pernah dikirim ke luar negeri sebagai perwakilan universitasnya untuk mengikuti olimpiade internasional. Lucunya, saya dan dia memang baru merasa dekat dan lebih benar-benar mengenal ‘dalam-dalamnya’ saat kami terpisah kota. Saat itu, kami sering sekali bertukar cerita lewat e-mail.

Dari cerita-ceritanya, saya justru baru tahu siapa teman lelaki yang disukainya semasa sekolah… siapa yang pernah mematahkan hatinya… apa yang menjadi alasan putusnya hubungannya dengan pacarnya di waktu SMP… dan sebagainya. Kemudian, ia juga bercerita bahwa saat itu dia tengah dekat dengan seorang seniornya di kampus. Pada akhirnya mereka memang menjalin hubungan, tapi saat ini sudah putus. Teman saya pun bercerita bahwa ia sempat merasa sangat down, seakan-akan tidak punya tujuan hidup. Dia merasa tidak ada yang tulus mencintainya. Dia merasa teman-temannya di kampus mau berkawan dengannya hanya karena otaknya yang encer. Intinya, dia merasakan banyak sekali depresi yang selama ini saya pikir tidak akan mampir di kehidupan perempuan sejenius dan setangguh dia. Apakah sayanya saja yang terlalu overestimate orang-orang ya? Eh, tapi kan lebih baik daripada underestimate? Setuju tidak? Tidak ya? Hehe.

Lalu, ada lagi satu teman kuliah saya yang pernah berada dalam sebuah relationship yang sangat damaging (mungkin hampir mirip relationship Rihanna dan Chris Brown… ingat kan? Bedanya, pacar teman saya sama sekali tidak ganteng seperti Chris Brown, tapi berhasil meluluhkan hati teman saya yang tidak kalah cantik dengan Rihanna itu :p). Jadi, teman saya ini ternyata selain selalu dikasari secara verbal dan fisik, diporoti uangnya, juga diduakan oleh lelaki ini. Saya dulu sangat heran mengapa teman saya bertahan dengan laki-laki ini, padahal dia bisa dengan mudahnya mendapatkan lelaki lain kalau ia mau, secara ia cantik dan pintar. Rupanya, lelaki itu sangat manipulatif. Dengan caranya sendiri, ia bisa membuat teman saya merasa bahwa tidak akan ada lelaki lain yang mau dengannya kecuali dirinya. Ia membuat teman saya merasa bahwa ialah yang membutuhkan lelaki itu, bukan sebaliknya! Astaga… Namun, beruntung akhirnya hubungan mereka yang tidak sehat itu selesai sudah, dan kini teman saya juga sudah berpacaran lagi dengan lelaki yang lebih beres…

Saya sendiri semasa sekolah adalah anak yang, kalau dideskripsikan, cukup 3B. Bukan Brain, Beautiful, and Behavior ya… tapi Bold, Brave, and Bitchy! Saya anak yang aktif, percaya diri, dan walau tidak sepintar kedua teman yang saya ceritakan tadi, saya tidak pernah tidak masuk dalam 10 besar tanpa harus berusaha mati-matian belajar keras. Yang paling diingat oleh teman-teman saya adalah bagaimana saya dulu sering bersikap sadis pada laki-laki. Saya orang yang gampang sekali bosan dan berpindah hati saat itu. Saya juga tidak segan-segan menyakiti perasaan laki-laki yang menyukai saya kalau saya memang tidak suka dengannya. Teman-teman dekat saya pasti masih ingat betapa saya berkoar-koar bahwa saya tidak akan pernah mau menikah ataupun punya anak suatu hari nanti, karena menurut saya, love is bullshit! Apalagi marriage! Mereka hanya geleng-geleng kepala saat itu, tidak berkomentar apa-apa. Ibu saya juga tahu perkataan saya tersebut, tapi dia hanya berkata bahwa semua akan ada waktunya. Hmm, oke.

Sampai suatu ketika, saya merasakan, untuk pertama kalinya, jatuh cinta yang benar-benar dalam dan membutakan, di tahun terakhir saya di SMA. Saya kelimpungan saat itu, apalagi saya pernah bertekad tidak mau pacaran sampai lulus SMA. Akhirnya, saya melanggar janji itu sendiri dengan menjalin hubungan spesial dengan laki-laki ‘beruntung’ ini, haha.

Namun, ternyata saya kena batunya. Setelah bertahun-tahun memiliki prinsip itu, serta sering kali mengejek teman-teman saya yang patah hati karena laki-laki, akhirnya saya merasakan giliran saya. Karma, mungkin. Saya ternyata hanya ditipu oleh laki-laki ini. Bodohnya, saya masih saja terus melanjutkan hubungan yang tidak jelas itu sampai sekitar dua tahun, on and off and on and off and on… Begitu terus sampai akhirnya saya muak sendiri dan memutuskan untuk benar-benar mengakhirinya.

Persepsi saya terhadap cinta memang makin rusak, tapi paling tidak saya mengakui bahwa saya telah salah selama ini, menyepelekan perasaan sedih teman-teman saya yang telah lebih dulu mengalami peristiwa patah hati seperti itu. Namun, walaupun saya bilang makin rusak, bukan berarti saya tidak bisa jatuh cinta lagi. Secara, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya cukup mudah berpindah hati, walau dalam menyukai seseorang, saya tetap punya standar-standar tertentu dong :p

Mungkin kalau dipikir-pikir, sejauh ini, sampai di umur saya yang ke-21 tahun ini, saya sudah pernah merasakan tiga kali jatuh cinta yang sungguhan. Yang lainnya, istilahnya ‘numpang lewat’ atau sekedar naksir lah ya… Tiga pria yang saya jatuh cintai ini tipenya berbeda-beda. Hmm, tapi mungkin tidak perlu dibahas siapa mereka dan seperti apa mereka di sini. Yang pasti, ketiganya memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa yang memukauku, serta juga kekurangan-kekurangan yang pada akhirnya membuatku il-feel. Well, aku pun pasti seperti itu di mata ketiganya.

Saya bersyukur pernah bertemu dengan ketiga lelaki itu (dan, oke, beberapa lelaki lain yang walau cuma numpang lewat tapi lumayan memberi kontribusi :p). Dari mereka saya belajar banyak hal yang tidak bisa saya sebut satu per satu di sini. Segala bentuk cinta yang pernah saya terima dari mereka membuat saya mengerti bahwa cinta itu memang bisa terasa sangat indah. Semua sakit hati yang mereka berikan juga membuat saya semakin kuat, bisa menerima bahwa manusia tidak sempurna, dan sekaligus juga lebih mengenal diri saya sendiri: apa yang saya suka, apa yang saya cari, apa yang saya butuhkan dari sosok lelaki. Mungkin, setelah ini pun, saya masih akan mengalami cinta dan patah hati yang lain. Who knows, right?

Yang ingin saya sampaikan dari tulisan saya ini, terlebih pada para perempuan, adalah agar tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan cinta! Memang, sungguh mengherankan ya, bagaimana laki-laki bisa membuat perempuan (even yang sangat cantik, pintar, dan strong-willed) jatuh pada perasaan-perasaan kelam yang sangat merusak jika dibiarkan berlarut-larut? Saya tidak bisa seenaknya bilang pada para wanita untuk tidak terbawa perasaan begitu saja, karena memang sebenarnya perasaanlah yang menjadi kekuatan seorang wanita! Sering dengar kan, ada yang bilang kalau perasaan wanita itu lebih lembut sekaligus lebih kuat dibandingkan perasaan lelaki yang cenderung lebih pakai logika?

Namun, ladies, perlu diingat bahwa kita, para wanita, juga punya logika lho (walau Agnes Monica bilang, “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika”). Coba ibaratkan sedang belajar matematika. Dalam menyelesaikan soal matematika, rumus tidak bisa kalau hanya cuma dihafal, tapi harus dimengerti. Sekali kamu mengerti, logikamu akan semakin berkembang. Jadi, ketika soalnya dibolak-balik ‘sejelimet’ mungkin, kamu tetap bisa berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Sama dengan hubungan cinta. Istilahnya, tidak bisa kalau hanya sekali latihan. Kamu harus ditempa dengan berbagai permasalahan terlebih dulu, baru kamu bisa memperkuat logika kamu dan menyeimbangkannya dengan perasaan dalam hati kamu. Bukannya saya bilang kamu harus latihan dengan banyak lelaki lho (siapa tahu kamu tipe yang kelewat setia sampai satu lelaki saja tidak habis-habis kamu eksplorasi :p)! Tapi, kalau mau dengan banyak lelaki juga tidak apa-apa (kalau saya sih sepertinya pilih yang ini :D)! Yang penting, jangan pernah terlalu lama meratapi nilai ulangan yang merah (putus cinta)! Kamu harus bisa mencari tahu di mana kesalahanmu supaya di ulangan (hubungan) berikutnya, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama… tapi kesalahan yang lain! Hehe… Percaya deh, kamu lebih baik melakukan semua jenis kesalahan yang ada selagi muda, daripada terburu-buru dengan satu pilihan (yang kamu sendiri tidak benar-benar yakin…) dan melakukan kesalahan saat sudah tua! Aduh, udah nggak cocok, jeng! :p

Nah, sekarang kalau kamu tanya pada saya, “Jadi, lebih penting logika atau perasaan?” atau “Otak atau hati?”, Saya akan jawab, “Lebih penting otak.” Mengapa demikian? Karena bagi saya, otaklah yang mengontrol hati. Otaklah yang mengontrol perasaan di hati kita (yang letaknya saja abstrak, hehe :p). Gampangnya begini, bayangkan kalau kamu kecelakaan, lalu mengalami amnesia. Semua memori di otakmu hilang! Otomatis, semua perasaanmu terhadap orang-orang yang (sebelumnya) kamu kenal juga hilang kan? Bandingkan dengan misalnya kamu tiba-tiba il-feel terhadap sesuatu. Belum tentu memori hal itu akan langsung hilang dari otak hanya karena kita sudah tidak punya perasaan khusus terhadapnya kan? Hmm, apakah penjelasan saya bisa diterima? Feel free to give comments for this, okay?

So… don’t take this life too hard and too seriously while you are young! Even when you grow older, please just stay young at heart, and at brain! Cause young spirits are innocent, curious, playful, strong, creative, and HAPPY! J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s