I heart Japan! Here’s Why…

Don’t we all dream of traveling to Japan?

We all enjoy at least one of so many Japanese things around us. It could be watching the Japanese cartoon movies on Sunday morning, enjoying sushi and ocha with friends at that famous Sushi Tei, or driving Japanese-branded-cars like Honda, Toyota, etc. Buat penyuka karate, origami, film horror, atau bahkan film porno (ups!), saya yakin pasti juga familiar dengan negeri matahari terbit ini.

 
Pertama kali saya jatuh cinta dengan Jepang adalah karena saya dulu fans berat Sailor Moon. Saya punya banyak pernak-pernik Sailor Moon, sampai saya juga pergi ke penjahit langganan nenek hanya untuk buat kostum Sailor Moon! Yup, sailor favorit saya kebetulan adalah si Sailor Moon itu sendiri, walaupun zodiak saya (Virgo) sebenarnya masuk kategori Mercury… halah!

Untuk bahasa Jepang sendiri sayangnya saya tidak pernah mempelajari, just because I easily gave up with languages that use alphabets or characters other than the Latin ones… Walau begitu, saya tahu beberapa kata dan frase dalam bahasa Jepang (seperti kawaii, totemo atsui, itadakimasu, dll.) karena pernah diajari oleh teman-teman yang asli sana.

Yup, pertemuan saya dengan 20 mahasiswa Jepang pada Agustus 2010 lah yang membuat saya kemudian tertarik untuk jalan-jalan ke Jepang (dan bukan cuma muter lagu Utada Hikaru dan soundtrack Cardcaptor Sakura seharian di kamar sebagai rasa cinta saya terhadap Jepang). Saat itu saya masih kuliah, menjelang semester 7. Saya mengikuti program KKN Alternatif yang notabene merupakan program beasiswa parsial dari universitas saya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (boleh donk ya disebut, kan bangga lulusan sana, hehe). Saya cukup beruntung, saya terpilih sebagai salah satu dari tujuh mahasiswa yang terpilih untuk mengikuti program tersebut di Siem Reap, Kamboja. Nah, apa hubungannya Kamboja dengan Jepang?

Jadi begini, program yang dinamakan Service Learning Program (SLP) itu adalah sebuah kerja sama antar beberapa universitas yang termasuk dalam Association of Jesuit Colleges and Universities – East Asia Pacific. Pada tahun 2010, universitas-universitas yang bergabung dalam SLP ada dari 4 negara, yaitu Indonesia, Filipina, Korea Selatan, dan Jepang. Di tahun itu pula, Sophia University Tokyo menjadi host semua peserta. Karena mereka adalah host itulah, maka banyak mahasiswanya yang dikirim untuk ikut serta dalam SLP. Jadilah saya mengenal banyak teman Jepang dari program ini. Thanks to my university!

Dari perkenalan saya dengan teman-teman Jepang itu, saya semakin impressed by how they behave and present themselves in general. Mereka orang yang betul-betul sopan dan ramah. Mereka juga modis sekali, saya suka melihat gaya berpakaian mereka yang unik-unik selama 10 hari kami bersama di sana. Cewek-cewek Jepang suka sekali sharingtentang pacar atau idola masing-masing satu sama lain. Yang cowok-cowok suka mengadakan acara kumpul-kumpul pada malam hari untuk sekedar ngobrol dan minum bir bersama. Super fun!
Cultural Night, Cambodia. Saya yang pakai baju adat Padang warna pink itu, dengan tudung kepala yang failed.  
Sebagai orang yang belajar Psikologi, saya selalu tertarik dengan… manusia. Maksudnyaaa, jika dihubungkan dengan aktivitas traveling nih, saya cenderung lebih tertarik pergi ke daerah atau negara yang budaya atau karaktek penduduknya menarik bagi saya. So, since then, saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan menabung untuk mengunjungi Jepang suatu hari nanti!

Akhirnya, hampir 5 tahun kemudian, tepatnya pada Januari 2015, impian saya untuk jalan-jalan ke Jepang tercapai juga! Lama banget ya? Secara saya manusia biasa yang suka plin plan dan nggak kuat iman, tabungan yang sudah dirintis sejak 2010 sempat terpakai untuk hura-hura di sana-sini, dan malah traveling ke negara lain dulu, haha… But anyway, I went there, and it has turned into my best traveling experience ever! These are my top 5 reasons why I love traveling in Japan:

1.        The people. Trust me, they are the best thing about the country. Dari orang di hotel, pejalan kaki yang nggak kenal kita, pedagang jajanan di pinggir jalan, sampai supir taksi… all are very polite and friendly. Sikap mereka itu terasa banget tulus dan nggak dibuat-buat. Ditambah lagi, mereka juga sangat helpful and honest. Istilahnya, nggak ‘tepu-tepu’ deh! Nanti saya akan jelaskan lebih lanjut mengapa saya bisa bilang mereka orang yang sopan, ramah, suka menolong, dan jujur.
Osekkai Japan, sebuah organisasi di Tokyo yang kerjanya bantuin turis secara cuma-cuma di jalan. Photo taken from Osekkai Japan’s official Facebook page.
 
2.       The food. Oh my God, nggak ada makanan yang nggak enak deh di sini. Dari yang di restoran kelas menengah, snack di minimarket, sampai kudapan pinggir jalan, semuanya super delicious… (Saya nggak menyebut restoran kelas atas, karena memang nggak ada cukup budget untuk makan di tempat nongkrongnya kaum jetset, hehe…)
Variation of cold soba in Kaikake Onsen, Yuzawa, Niigata.
 
3.       The public transportation. Waktu baru sampai di Jepang, kesan pertama yang saya dapat adalah: transportasi umum di sana lumayan ribet, karena untuk kereta sendiri saja ada banyak jenisnya, dan sudah pasti informasi lebih banyak ditulis dengan kanji Jepang (yang kadang bikin saya pusing, haha). Tapi setelah dipelajari, sebenarnya transportasi umum di sana keren banget. Rutenya jelas, bersih, dan sangat-sangat tepat waktu (even buses!). Kalau nggak mau ribet sama sekali sih bisa naik taksi, tapi harganya selangit. Jadi kalau situ nggak kaya-kaya amat, mending nggak usah naik taksi deh daripada budgetseminggu habis dalam sehari.
Shinkansen, a high speed train in Japan. Photo taken from Wikipedia page.
 
4.      The shopping places. Buat yang gila belanja, harus kuat menahan cobaan di Jepang. Seriously, cobaan belanjanya bakal tinggi di sini! Saya sendiri sama sekali bukan shopaholic untuk ukuran cewek (beneran!), tapi di sana saya juga harus menahan diri untuk nggak main comot segala macam barang yang ‘lucu’ di hadapan mata. Segala sesuatu yang dijual di sana dipresentasikan dan dikemas dengan sangat baik, maka itu pengalaman belanja di Jepang bisa jadi sangat menyenangkan (dan juga membuat kere kalau nggak pinter-pinter buat prioritas belanja!).
Nakamise-dori, Asakusa, Tokyo. My favorite shopping street! 🙂
 
5.       Last but not least… the pets! Saya penyuka binatang, terutama anjing. Memang sih saya nggak bisa bawa puppies saya jalan-jalan ke Jepang, tapi saya sukaaa banget melihat orang-orang di sana yang nggak tanggung-tanggung kalau punya pets. Anjing-anjing peliharaan di sana didandanin nggak kalah modis sama pemiliknya. Selain itu, si pemilik akan selalu membersihkan kotoran anjingnya andai kata si anjing pup di jalan. Jadi, lingkungan di sana senantiasa bersih. Saya juga sempat ke salah satu pet shop di sana, beli oleh-oleh untuk my puppies at home. Selebihnya akan saya ceritakan nanti.
Look at how “kawaii” that dog is!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s